
Antiran panjang mobil di pengisian bbm di russia (rferl)
Indonewstime - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Rusia akibat eskalasi serangan terhadap infrastruktur energinya telah memicu fenomena baru: perburuan massal mobil listrik buatan China. Para pengendara di Negeri Beruang Merah kini berbondong-bondong mendatangi diler demi menghindari antrean panjang dan harga BBM yang meroket.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasokan bensin dan solar di sebagian besar wilayah Rusia semakin tertekan. Akibatnya, harga eceran BBM di sejumlah daerah bahkan melonjak ke level tertinggi se-Eropa. Kondisi ini memaksa masyarakat untuk mencari alternatif, dan mobil listrik serta hibrida plug-in menjadi primadona baru.
Penjualan Melonjak, China Jadi Pemenang
Meskipun basis kendaraan listrik di Rusia masih tergolong kecil, tren peralihan ini terjadi sangat cepat. Data dari lembaga analitik Autostat menunjukkan, pada lima bulan pertama 2026, penjualan mobil hibrida plug-in baru melonjak 125 persen secara tahunan, sementara mobil listrik murni naik 19 persen. Lonjakan semakin terasa pada Juni, seiring krisis yang semakin akut. Pekan lalu saja, tercatat 1.754 unit hibrida plug-in baru teregistrasi—naik hampir sepertiga dibanding pekan sebelumnya.
"Jika krisis berlanjut, penjualan akan tumbuh signifikan dalam waktu dekat, dan China akan jadi penerima manfaat utama," ujar Sergei Udalov, direktur eksekutif Autostat.
Merek-merek asal Tiongkok mendominasi pasar. Menurut Autostat, Geely, Dongfeng, GAC, dan Chery menjadi merek mobil listrik dan hibrida terlaris di Rusia. Bahkan model listrik produksi lokal Rusia, Evolute, dirakit dari kit yang dipasok oleh Dongfeng.
Di Balik Lonjakan: Infrastruktur Masih Terbatas
Di tengah euforia peralihan, tantangan tetap ada. Jumlah stasiun pengisian daya di Rusia memang naik 20 persen dalam setahun hingga Juli 2026. Namun bagi sebagian pemilik kendaraan listrik, mengisi daya di kota besar masih menjadi pekerjaan rumah tersendiri.
Vasiliy, seorang pelanggan yang ditemui di sebuah diler Moskow, mengaku bersyukur telah lebih dulu beralih ke kendaraan listrik dan hibrida. "Terutama dalam situasi saat ini, saya sama sekali tidak mengalami masalah," ujarnya sambil tertawa kecil.
Meski demikian, ia menduga lonjakan minat terhadap mobil listrik ini mungkin tidak akan bertahan lama. Sementara itu, sebagian warga Rusia lainnya memilih jalan berbeda dengan memasang alat konversi agar kendaraannya bisa menggunakan gas alam cair yang lebih murah dan tersedia.
Tantangan di Tengah Kepanikan
Krisis ini bermula dari meningkatnya serangan Ukraina ke infrastruktur energi Rusia yang menekan pasokan BBM. Pembatasan di sebagian besar wilayah pun tak terhindarkan. Padahal, minat terhadap mobil listrik sebenarnya sudah meningkat sebelum krisis akut ini terjadi, seiring harga BBM yang naik lebih dari 12 persen secara tahunan antara Januari-Mei. Namun krisis pasokan yang terjadi belakangan mempercepat tren yang sudah berjalan tersebut.
Dengan total penjualan mobil listrik dan hibrida yang tahun lalu baru menyumbang 4,3 persen dari total penjualan mobil Rusia, lonjakan ini menunjukkan potensi pertumbuhan yang masih sangat besar. Pertanyaannya sekarang, mampukah rantai pasok dan infrastruktur Rusia mengimbangi ledakan permintaan ini?
